Pos

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

karena dunia ini mengecewakan. hanya yang bersyukur yang tidak kecewa.

kamu menikah sama A, kamu akan bahagia dan akan kecewa. kamu menikah sama B, kamu sama-sama akan bahagia dan akan kecewa. tapi Allah yang mengetahui, kebahagiaan mana yang kamu sanggup tidak terlalu bahagia karenanya. kekecewaan mana yang kamu sanggup tidak terlalu kecewa karenanya. itulah yang dipilihkan Allah untukmu. tentu saja, tidak ada garansinya kamu akan bahagia tentang apa dan tidak akan kecewa tentang apa. pasanganmu bukan barang yang kalau kamu kecewa, bisa kamu minta untuk ditukar dengan yang baru. jadi semua tergantung kamu, mau bersyukur sama pilihan Allah atau tidak? bersyukur itu menyelamatkan diri, pikir, hati, dan jiwa kamu. sedangkan yang menyelamatkan hubungan itu semua dengan milik pasanganmu adalah–memaafkan. kau tau dari apa pintu maaf itu paling banyak dibuat? kasih sayang dan rasa percaya. lalu dengan apa kunci-kuncinya bisa terbuka? kejujuran. -- Prawita Mutia

ketika kejenuhan tiba

individu yang sedang berada dalam kondisi jenuh merupakan fase dimana individu tersebut menemukan kebuntuan dari pola berpikir yang terlalu dipaksakan pada sesuatu yang sejatinya butuh proses untuk menyelesaikannya. namun karena dipaksakan dan lupa kondisi, maka otak menjadi tak mampu berproses dengan baik, jadilah seolah-olah segala pemikiran menjadi “blank” dan akhirnya pusing sekaligus merasa jenuh. santai saja kawan! kejenuhan merupakan proses yang sangat manusiawi, jadi tidak perlu panik. sekarang sebenarnya, bagaimana kita harus menghadapi kejenuhan? apa perlu mengundang teman-teman satu batalyon untuk menghibur kita? atau kita mencari ketenangan dan mengedurkan urat saraf yang sedang kusut? APAPUN CARA KAMU!
untuk mengatasi kejenuhan itu benar! (dalam hal yang positif yaa) dan cara paling mudah untuk melawan kejenuhan adalah dengan tidak lupa berbahagia atas apa yang kamu lakukan saat ini. dibawah tekanan berbagai pihak tetaplah berbahagia, karena kita sering kali lupa esensi …